Minggu, 03 Juni 2012

Survey : Metode Belajar



Survey Metode Belajar

Sehubungan dengan tugas dari mata kuliah Psikologi Pendidikan, saya melakukan survey online yang bertujuan untuk melihat metode belajar apakah yang lebih diminati dan efektif bagi mahasiswa/i Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

Kuesioner ini terdiri dari 10 pernyataan yang berhubunagn dengan metode belajar. Survey ini telah diisi oleh 53 mahasiswa/i secara random. Berikut adalah pernyataan-pernyataan dan hasil yang saya dapatkan.

1. Saya merasa sedikit kesusahan dalam mengeluarkan pendapat ketika berdiskusi.
Setuju
23
43,40 
Netral
19
35,85 
Tidak Setuju
11
20,75 

2. Saya ingin bertanya kepada dosen / presenter namun saya malu.
Setuju
30
56,60 
Netral
12
22,64 
Tidak Setuju
11
20,75 

3. Saya merasa berdiskusi sangat membantu dalam mengembangkan pengetahuan-pengetahuan yang belum saya ketahui.
Setuju
45
84,91 
Netral
7
13,21 
Tidak Setuju
1
1,89 

4. Saya lebih cepat dan gampang menyerap pelajaran apabila dosen yang berceramah / menjelaskan.
Setuju
32
60,38 
Netral
19
35,85 
Tidak Setuju
2
3,77 

5. Saya merasa diskusi cukup membuang-buang waktu karena akan memungkinkan untuk bergossip.
Setuju
9
16,98 
Netral
30
56,60 
Tidak Setuju
14
26,42 

6. Saya tidak dapat berkonsentrasi lagi apabila dosen / presenter berceramah terlalu lama.
Setuju
32
60,38 
Netral
17
32,08 
Tidak Setuju
4
7,55 

7. Saya merasa jenuh apabila diharuskan untuk membaca bahan topik terlebih dahulu agar dapat menjawab pertanyaan dosen pada hari perkuliahan.
Setuju
13
24,53 
Netral
32
60,38 
Tidak Setuju
8
15,09 

8. Saya ingin bertanya kepada dosen / presenter namun saya tidak mendapatkan kesempatan.
Setuju
7
13,21 
Netral
29
54,72 
Tidak Setuju
17
32,08 

9. Saya tidak suka berdiskusi karena ada anggota kelompok yang tidak mau bekerja sama.
Setuju
16
30,19 
Netral
26
49,06 
Tidak Setuju
11
20,75 

10. Saya lebih memperhatikan ceramah dosen yang komunikatif.
Setuju
41
77,36 
Netral
12
22,64 
Tidak Setuju
0

Metode belajar yang tersedia dalam pernyataan-pernyataan diatas diantaranya terdiri atas metode belajar ceramah, tanya jawab dan diskusi.

Pernyataan 1, 3, 5, dan 9 mereprensentasikan metode belajar diskusi.
Pernyataan 2, 7, dan 8 mereprensentasikan metode belajar tanya jawab.
Pernyataan 4, 6, dan 10 mereprensentasikan metode belajar ceramah.

Dapat dilihat dari pernyataan yang merepresentasikan metode belajar dengan berdiskusi, 84,9 responden yang berupa mahasiswa/i Fakultas Psikologi USU menjawab bahwa mereka beranggapan berdiskusi sangat membantu dalam mengembangkan pengetahuan-pengetahuan yang belum mereka ketahui. Namun, sekitar setengah responden juga (43,40 %) menjawab bahwa mereka merasa sedikit kesulitan dalam mengeluarkan pendapat ketika diskusi sedang berlangsung.
Dalam pernyataan Saya merasa diskusi cukup membuang-buang waktu karena akan memungkinkan untuk bergossip dan Saya tidak suka berdiskusi karena ada anggota kelompok yang tidak mau bekerja sama, tidak terjadi ekstrem kiri maupun kanan. Lebih dari setengah responden menjawab "Netral" pada kedua pernyataan tersebut.

Pada pernyataan mengenai metode belajar dengan tanya jawab, sebanyak 56,60responden yang berupa mahasiswa/i Fakultas Psikologi USU menjawab bahwa mereka malu ketika akan bertanya kepada dosen / presenter.
Sebanyak 54,72 responden menjawab "Netral" dalam pernyataan Saya ingin bertanya kepada dosen / presenter namun saya tidak mendapatkan kesempatan.
Hal ini dapat berkaitan dengan pernyataan nomor 2 yang menyatakan bahwa responden malu ketika akan bertanya. Kaitannya yaitu jawaban "Netral" dipilih dalam pernyataan Saya ingin bertanya kepada dosen / presenter namun saya tidak mendapatkan kesempatan karena responden bukan merasa tidak mendapatkan kesempatan, melainkan mereka merasa malu sehingga tidak ingin bertanya. Namun lebih banyak responden (32,08%) tidak setuju bahwa mereka tidak mendapatkan kesempatan.
Pada pernyataan Saya merasa jenuh apabila diharuskan untuk membaca bahan topik terlebih dahulu agar dapat menjawab pertanyaan dosen pada hari perkuliahan, juga tidak terjadi ekstrem kiri maupun kanan. Sebanyak 60,38% menjawab "Netral" pada pernyataan tersebut.

Pada pernyataan Saya lebih cepat dan gampang menyerap pelajaran apabila dosen yang berceramah / menjelaskan, sebanyak 60,38% responden menjawab setuju. Lebih dari setengah responden juga menjawab setuju bahwa mereka tidak akan dapat berkonsentrasi lagi apabla ceramah yang diberikan terlalu lama. Dan juga sebanyak 77,36% menjawab setuju bahwa dosen yang komunikatif-lah yang akan membuat responden lebih memperhatikan ketika ceramah berlangsung.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa metode belajar yang paling diminati oleh responden yang berupa mahasiswa/i Fakultas Psikologi USU yang telah mengisi kuesioner tersebut yaitu metode belajar ceramah. Namun ceramah yang diberikan juga harus memperhatikan jangka waktu. Terlalu lama ceramah tersebut berlangsung akan menjadi tidak efektif  terhadap konsentrasi untuk menyerap apa yang sedang dikatakan. Dosen yang memberikan ceramah juga harus bersifat komunikatif.

Metode belajar diskusi sangat bermanfaat dalam mengembang pengetahuan-pengetahuan yang belum diketahui sebelumnya. Namun, metode ini juga tidak begitu efektif dikarenakan terdapat responden yang merasa sedikit kesulitan dalam mengeluarkan pendapat. Hal ini akan merugikan diri dia sendiri dan juga anggota kelompok lainnya.

Yang ketiga yaitu metode belajar tanya jawab. Hasil dari survey ini menunjukkan bahwa metode tanya jawab merupakan metode yang paling tidak efektif berdasarkan jawaban pernyataan-pernyataan diatas. Hal ini dikarenakan lebih dari setengah responden merasa malu ketika akan bertanya. Hal ini akan berdampak buruk, yaitu pengetahuan yang belum diketahui tidak akan terjawab sehingga pengetahuan tidak akan berkembang secara maksimal.

Testimonial :
Dalam menggunakan survey online ini, banyak keuntungan yang saya dapatkan. Dari yang awalnya saya tidak tahu bagaimana cara membuat survey online, sekarang saya telah paham tahap-tahap yang perlu dilakukan. Menggunakan survey online ini juga telah menambah pengalaman saya. Keuntungan yang lainnya pada survey online ini yaitu hematnya biaya yang perlu dikeluarkan dan juga terjadi penghematan kertas tentunya. Dalam survey online ini, hasil akhir juga telah tersedia dalam bentuk persentase secara langsung sehingga memudahkan peneliti dalam menghitung.
Kelemahan survey online menurut saya yaitu tidak terjaminnya kuesioner akan diisi oleh responden dan juga bisa terjadinya incomplete result. Maka diharuskan untuk memposting link dan juga mengecek ulang apakah jawaban telah terisi dengan lengkap sesering mungkin. Namun secara keseluruhan, saya merasa survey online ini sangat bermanfaat.




Jumat, 01 Juni 2012

Paedagogi



Paedagogi berasal dari bahasa Yunani "paedagogia" yang berarti pergaulan dengan anak-anak. Paedagogos ialah seorang pelayan pada jaman Yunani kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak sekolah. "Paedagogos" berasal dari kata paid yang artinya anak dan agogos yang artinya memimpin atau membimbing. Dari kata inilah lahir istilah Paedagogi yang diartikan sebagai suatu ilmu dan seni dalam mengajar anak-anak.
Paedagogi secara literal mempunyai arti seni dan ilmu pengetahuan tentang mendidik anak-anak  atau dapat juga disebut sebagai seni dalam menjadi seorang guru dan sering digunakan sebagai sebuah sinonim untuk suatu pengajaran. Secara lebih tepatnya, pedagogi mewujudkan pendidikan yang berfokuskan guru.

Dalam suatu model pedagogi, guru memikul tanggungjawab untuk membuat keputusan tentang apa yang akan dipelajari, dan bagaimana ia akan dipelajari, dan kapan ia akan dipelajari. Guru mengarahkan pembelajaran dan pengalaman guru lebih dominan. Dengan demikian siswa akan sangat tergantung pada guru. Siswa mengikuti aktifitas belajar, dimana ia sendiri tidak banyak mengalami sesuatu, kecuali sebagai peserta pasif. Guru mengasumsikan dirinya bahwa ia bertanggung jawab penuh terhadap apa yang akan diajarkan dan bagaimana mengajarkannya. Gurulah yang mengevaluasi hasil belajar. Pembelajaran dianggap sebagai proses perolehan suatu pengetahuan (mata ajar) yang telah ditentukan sebelumnya. Materi ajar telah diurutkan secara sistematis dan logis sesuai dengan topik-topik mata ajar.

Dalam pedagogi, umumnya motivasi datang secara eksternal, artinya disuruh atau dipaksa atau diwajibkan atau dituntut untuk mengikuti suatu pendidikan tertentu. 


http://klubhausbuku.wordpress.com/2008/06/07/pengenalan-andragogi-pedagogi/

http://kartika71tik.blogspot.com/2011/03/paedagogi-dan-andragogi.html

http://kartika71tik.blogspot.com/2011/03/paedagogi-dan-andragogi.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Pedagogi

http://imtaq.com/perbedaan-pedagogi-dan-andragogy/

Jumat, 11 Mei 2012

Blended Learning


Blended Learning


Beberapa kemungkinan tentang pengertian blended learning antara lain sebagai berikut :
1. Penggabungan pembelajaran berbasis teknologi internet (laboratorium virtual, modul digital, gambar,audio, dan text) untuk mencapai tujuan pembelajaran.
2. Kombinasi teknologi komputer dan informasi dengan pembelajaran tatap muka.
3. Pengertian blended learning  yang banyak diikuti adalah upaya mengkombinasikan pembelajaran yang mengkombinasi atau mencampur antara pembelajaran tatap muka (face to face = f2f) dan pembelajaran berbasis komputer (online dan offline).


Blended learning dapat melatih kemampuan siswa untuk beradaptasi dengan pembelajaran berbasis internet. Beberapa keuntungan pemanfaatan blended learning dalam pembelajaran diantaranya adalah sebagai berikut :  
1. Siswa leluasa untuk mempelajari materi pelajaran secara mandiri memanfaatkan materi-materi yang tersedia secara on-line.
2. Siswa dapat melakukan diskusi dengan guru atau siswa lain diluar jam tatap muka.
3. Kesempatan belajar menjadi lebih baik secara bersama-sama maupun secara terpisah. Para palajar tidak harus hadir dalam ruang diskusi secara fisik, namun bisa secara virtual saja, sehingga tidak ada yang perlu untuk ketinggalan informasi.
4. Guru dapat menambahkan materi pengayaan melalui fasilitas internet.
5. Meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan daya tarik yang lebih besar dalam berinteraksi antar manusia dalam lingkungan belajar yang beragam.

Disamping keuntungannya, menurut saya blended learning juga memiliki beberapa kekurangan. Contohnya seperti :
1. Tidak tersedianya jaringan internet dimana saja. Apabila jaringan kurang memadai akan menyulitkan peserta dalam mengikuti pembelajaran mandiri via online.
2. Belum tentu semua mahasiswa sekarang telah mempunyai laptop pribadi. Meskipun laptop telah merupakan sesuatu yang umum dimiliki setiap orang pada saat ini, namun kenyataannya ada juga beberapa teman saya yang belum memilikinya. Maka, untuk kondisi seperti ini, blended learning menjadi kurang efektif dan sedikit menyusahkan.
3. Kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan teknologi.


Tujuan utama blended learning adalah memberikan kesempatan bagi berbagai karakteristik pebelajar agar terjadi belajar mandiri, berkelanjutan, dan berkembang sepanjang hayat, sehingga belajar akan menjadi lebih efektif, lebih efisien, dan lebih menarik.

Terdapat beberapa penelitian menunjukkan bahwa blended learning memiliki kelebihan dibandingkandengan dengan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran murni e-learning. Blended learning dapat melakukan diversifikasi pembelajaran dan memenuhi karakteristik belajar siswa yang berbeda-beda. Misalnya, siswa yang enggan berdiskusi di kelas mungkin saja akan lebih aktif berdiskusi secara tertulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa blended learning lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran tatap muka maupun e-learning. Mengenai hal itu, saya cukup setuju. Karena tidak semua orang berani dalam mengajukan pendapatnya apabila di tempat umum langsung seperti kelas. Ada saja mahasiswa yang sebenarnya memiliki banyak ide namun kurang berani menunujukkannya. Dengan blended learning ini mahasiswa yang lebih tertutup akan menjadi lebih aktif.

Saya sendiri merasa blended learning cukup bermanfaat walaupun keefektivitasannya belum terpenuhi semaksimal mungkin. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa tidak semua orang memiliki laptop pribadi dan juga jaringan internet yang tidak begitu lancar. Selain itu, saya termasuk mahasiswa yang cukup gaptek sehingga diperlukan usaha lebih untuk mempelajarinya. Namun, hal inilah yang telah menjadi peluang bagi saya untuk mempelajari sesuatu yang baru dan mengembangkan pengetahuan saya.



Senin, 07 Mei 2012

Tugas Kelompok (Pendidikan Bagi Tunarungu)




 Anggota Kelompok :

1.     Gustrispa N. Sirait ( 11 – 035 )
2.     Fera ( 11 – 037 )
3.     Dina Maharani Trg ( 11 – 055 )
4.     Fania Hutagalung ( 11 – 081 )
5.     Rossie Janette G. G ( 11 – 087 )
6.     Dinarti Utari ( 11 - 093  )
7.     Chindy ( 11 – 097 )
8.     Fonds Novel ( 11 – 105 )
9.     Dhara Puspita Hrp ( 11 – 113 )
10.  Shellani Raudoh ( 11 – 115 )

Anak tunarungu adalah anak yang mengalami gangguan pendengaran atau kehilangan pendengaran yang diakibatkan oleh tidak berfungsinya sebagian atau seluruh indra pendengaran, baik permanen maupun tidak permanen sehingga dibutuhkan suatu layanan pendidikan khusus. Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran adalah:
1.     Gangguan pendengaran sangat ringan ( 27 – 40 dB )
2.     Gangguan pendengaran ringan ( 41 – 55 dB )
3.     Gangguan pendengaran sedang ( 56 – 70 dB )
4.     Gangguan pendengaran berat ( 71 – 90 dB )
5.     Gangguan pendengaran ekstrem/tuli ( di atas 91 dB )

Berhubung karena memiliki hambatan dalam pendengaran, individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. Cara berkomunikasi dengan individu menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda-beda di setiap negara. saat ini dibeberapa sekolah sedang dikembangkan komunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan melibatkan bahasa verbal, bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Individu tunarungu cenderung kesulitan dalam memahami konsep dari sesuatu yang abstrak.


Sebagaimana anak lainnya yang mendengar, anak tunarungu membutuhkan pendidikan untuk mengembangkan potensinya secara optimal. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, diperlukan layanan pendidikan yang disesuaikan dengan karakteristik, kemampuan, dan ketidakmampuannya.


Ditinjau dari tempat sistem pendidikannya, layanan pendidikan bagi anak tunarungu dikelompokkan menjadi sistem segregasi dan integrasi / terpadu.
1.   Sistem segregasi merupakan sistem pendidikan yang terpisah dari penyelenggaraan pendidikan untuk anak mendengar/normal. Tempat pendidikan bagi anak tunarungu melalui sistem ini meliputi: sekolah khusus (SLB-B), SDLB, dan kelas jauh atau kelas kunjung.
2.   Sistem pendidikan integrasi/terpadu, merupakan sistem pendidikan yang memberikan kesempatan kepada anak tunarungu untuk belajar bersama anak mendengar/normal di sekolah umum/biasa. Melalui sistem ini anak tunarungu ditempatkan dalam berbagai bentuk keterpaduan yang sesuai dengan kemampuannya. Depdiknas (1984) mengelompokkan bentuk keterpaduan tersebut menjadi kelas biasa, kelas biasa dengan ruang bimbingan khusus, serta kelas khusus. Strategi pembelajaran bagi anak tunarungu pada dasarnya sama dengan strategi pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran bagi anak mendengar/normal, akan tetapi dalam pelaksanaannya, harus bersifat visual, artinya lebih banyak memanfaatkan indra penglihatan siswa tunarungu.
Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa bagi Anak Tunarungu :
1.     Pendekatan Auditori Verbal
     Mengajarkan seorang anak untuk menggunakan pendengaran disediakan oleh alat bantu dengar atau implan koklea untuk memahami berbicara dan belajar untuk berbicara. Anak diajarkan untuk mengembangkan pendengaran sebagai akal aktif.
2.  Pendekatan Auditori Oral
  Pengajaran dilakukan dalam dua tahapan yang saling melengkapi, yaitu tahapan fonetik (mengembangkan keterampilan menangkap suku-suku kata secara terpisah-pisah) dan tahapan fonologik ( mengembangkan keterampilan memahami kata-kata, frase, dan kalimat).

Yang perlu diperhatikan oleh pendidik dalam memberikan pembelajaran pada anak tunarungu :
a.     Tidak berbicara membelakangi anak
b.     Anak hendaknya duduk atau berada di bagian paling depan kelas
c.     Bila hanya sebagaian telinganya yang tuna rungu, tempatkan anak sehingga telinga yang masih berfungsi dengan baik, dekat dengan guru
d.     Perhatikan postur anak
e.     Dorong anak selalu memperhatikan wajah guru
f.      Berbicara dengan volume biasa, tetapi gerakan bibirnya harus jelas


Sumber :

Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus


            Pada dasarnya setiap anak berpotensi mengalami problema dalam belajar, hanya saja problema tersebut ada yang ringan dan tidak memerlukan perhatian khusus dari orang lain karena dapat diatasi sendiri oleh anak yang bersangkutan dan ada juga yang problem belajarnya cukup berat sehingga perlu mendapatkan perhatian dan bantuan dari orang lain. Anak luar biasa atau disebut sebagai anak berkebutuhan khusus memang tidak selalu mengalami problem dalam belajar. Namun, ketika mereka diinteraksikan bersama-sama dengan anak- anak sebaya lainnya dalam sistem pendidikan regular, ada hal-hal tertentu yang harus mendapatkan perhatian khusus dari guru dan sekolah untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal.
            Anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan mengalami kelainan/ penyimpangan (fisik, mental-intelektual, sosial, dan emosional) dalam proses pertumbuhkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain yang seusia sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

Beberapa jenis dan karakteristik anak berkebutuhan khusus :

Tunagrahita (Mental retardation)
Adapun cara mengidentifikasi seorang anak termasuk tunagrahita yaitu melalui beberapa indikasi sebagai berikut :
  1. Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu kecil/besar.
  2. Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia.
  3. Perkembangan bicara/bahasa terlambat.
  4. Tidak ada/kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan (pandangan kosong).
  5. Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali).
  6. Sering keluar ludah (cairan) dari mulut.

Tunalaras (Emotional or behavioral disorder)
Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. individu tunalaras biasanya menunjukan prilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku disekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar.
Anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku juga bisa diidentifikasi melalui indikasi berikut:
  1. Bersikap membangkang.
  2. Mudah terangsang emosinya.
  3. Sering melakukan tindakan aggresif.
  4. Sering bertindak melanggar norma sosial / norma susila / hukum.

Tunarungu Wicara (Communication disorder and deafness)
Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen. Berikut identifikasi anak yang mengalami gangguan pendengaran :
  1. Tidak mampu mendengar.
  2. Terlambat perkembangan bahasa.
  3. Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi.
  4. Kurang/tidak tanggap bila diajak bicara.
  5. Ucapan kata tidak jelas.
  6. Kualitas suara aneh/monoton.
  7. Sering memiringkan kepala dalam usaha mendengar.
  8. Banyak perhatian terhadap getaran.
  9. Keluar nanah dari kedua telinga.
  10. Terdapat kelainan organis teling.
Karena memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. Cara berkomunikasi dengan individu menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda-beda di setiap negara. saat ini dibeberapa sekolah sedang dikembangkan komunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan melibatkan bahasa verbal, bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Individu tunarungu cenderung kesulitan dalam memahami konsep dari sesuatu yang abstrak.

Tunanetra (Partially seing and legally blind)
Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan. tunanetra dapat diklasifikasikan kedalam dua golongan yaitu: buta total (Blind) dan low vision. Berikut identifikasi anak yang mengalami gangguan penglihatan :
  1. Tidak mampu melihat.
  2. Tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 meter.
  3. Kerusakan nyata pada kedua bola mata.
  4. Sering meraba-raba/tersandung waktu berjalan.
  5. Mengalami kesulitan mengambil benda kecil di dekatnya.
  6. Bagian bola mata yang hitam berwarna keruh/besisik/kering.
  7. Mata bergoyang terus

Tunadaksa (physical disability)
Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk celebral palsy, amputasi, polio, dan lumpuh. Tingkat gangguan pada tunadaksa adalah ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan melalui terapi, sedang yaitu memilki keterbatasan motorik dan mengalami gangguan koordinasi sensorik, berat yaitu memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik dan tidak mampu mengontrol gerakan fisik.
Berikut identifikasi anak yang mengalami kelainan anggota tubuh tubuh/gerak tubuh :
  1. Anggota gerak tubuh kaku/lemah/lumpuh.
  2. Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lentur / tidak terkendali).
  3. Terdapat bagian anggota gerak yang tidak lengkap / tidak sempurna / lebih kecil dari biasa.
  4. Terdapat cacat pada alat gerak.
  5. Jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam.
  6. Kesulitan pada saat berdiri / berjalan / duduk, dan menunjukkan sikap tubuh tidak normal.
  7. Hiperaktif /tidak dapat tenang.

Tunaganda (Multiple handicapped)
Menurut Johnston & Magrab, tunaganda adalah mereka yang mempunyai kelainan perkembangan mencakup kelompok yang mempunyai hambatan-hambatan perkembangan neurologis yang disebabkan oleh satu atau dua kombinasi kelainan dalam kemampuan seperti intelegensi, gerak, bahasa, atau hubungan pribadi di masyarakat.
Walker (1975) berpendapat mengenai tunaganda sebagai berikut:
  1. Seseorang dengan dua hambatan yang masing-masing memerlukan layanan-layanan pendidikan khusus.
  2. Seseorang dengan hambatan-hambatan ganda yang memerlukan layanan teknologi.
  3. Seseorang dengan hambatan-hambatan yang memerlukan modifikasi khusus.

Kesulitan Belajar (Learning disabilities)
Anak dengan kesulitan belajar adalah individu yang memiliki gangguan pada satu atau lebih kemampuan dasar psikologis yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa, berbicara dan menulis yang dapat memengaruhi kemampuan berfikir, membaca, berhitung, berbicara yang disebabkan karena gangguan persepsi, brain injury, disfungsi minimal otak, dislexia, dan afasia perkembangan. individu kesulitan belajar memiliki IQ rata-rata atau diatas rata-rata, mengalami gangguan motorik persepsi-motorik, gangguan koordinasi gerak, gangguan orientasi arah dan ruang dan keterlambatan perkembangan konsep.
Berikut adalah karakteristik anak yang mengalami kesulitan belajar dalam membaca, menulis, dan berhitung :
a. Anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia)
  1. Perkembangan kemampuan membaca terlambat.
  2. Kemampuan memahami isi bacaan rendah.
  3. Kalau membaca sering banyak kesalahan.
b. Anak yang mengalami kesulitan menulis (disgrafia)
  1. Kalau menyalin tulisan sering terlambat selesai.
  2. Sering salah menulis huruf b dengan p, p dengan q, v dengan u, 2 dengan 5, 6 dengan 9, dan sebagainya.
  3. Hasil tulisannya jelek dan tidak terbaca.
  4. Tulisannya banyak salah/terbalik/huruf hilang.
  5. Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris.
c. Anak yang mengalami kesulitan berhitung (diskalkula)
  1. Sulit membedakan tanda-tanda: +, -, x, :, >, <, =
  2. Sulit mengoperasikan hitungan/bilangan.
  3. Sering salah membilang dengan urut.
  4. Sering salah membedakan angka 9 dengan 6; 17 dengan 71, 2 dengan 5, 3 dengan 8, dan sebagainya.
  5. Sulit membedakan bangun-bangun geometri.

Anak Berbakat (Giftedness and special talents)
Menurut Milgram, R.M (1991:10), anak berbakat adalah mereka yang mempunyai skor IQ 140 atau lebih diukur dengan instrument Stanford Binet (Terman, 1925), mempunyai kreativitas tinggi (Guilford, 1956), kemampuan memimpin dan kemampuan dalam seni drama, seni tari dan seni rupa (Marlan, 1972).
Anak berbakat mempunyai empat kategori sebagai berikut :
  1. Mempunyai kemampuan intelektual atau intelegensi yang menyeluruh, mengacu pada kemampuan berpikir secara abstrak dan mampu memecahkan masalah secara sistematis dan masuk akal.
  2. Kemampuan intelektual khusus, mengacu pada kemampuan yang berbeda dalam matematika, bahasa asing, music, atau ilmu pengetahuan alam.
  3. Berpikir kreatif atau berpikir murni menyeluruh. Pada umumnya mampu berpikir untuk menyelesaikan masalah yang tidak umum dan memerlukan pemikiran tinggi.
  4. Mempunyai bakat kreatif khusus, bersifat orisinil dan berbeda dengan yang lain.