Jumat, 01 Juni 2012

Paedagogi



Paedagogi berasal dari bahasa Yunani "paedagogia" yang berarti pergaulan dengan anak-anak. Paedagogos ialah seorang pelayan pada jaman Yunani kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak sekolah. "Paedagogos" berasal dari kata paid yang artinya anak dan agogos yang artinya memimpin atau membimbing. Dari kata inilah lahir istilah Paedagogi yang diartikan sebagai suatu ilmu dan seni dalam mengajar anak-anak.
Paedagogi secara literal mempunyai arti seni dan ilmu pengetahuan tentang mendidik anak-anak  atau dapat juga disebut sebagai seni dalam menjadi seorang guru dan sering digunakan sebagai sebuah sinonim untuk suatu pengajaran. Secara lebih tepatnya, pedagogi mewujudkan pendidikan yang berfokuskan guru.

Dalam suatu model pedagogi, guru memikul tanggungjawab untuk membuat keputusan tentang apa yang akan dipelajari, dan bagaimana ia akan dipelajari, dan kapan ia akan dipelajari. Guru mengarahkan pembelajaran dan pengalaman guru lebih dominan. Dengan demikian siswa akan sangat tergantung pada guru. Siswa mengikuti aktifitas belajar, dimana ia sendiri tidak banyak mengalami sesuatu, kecuali sebagai peserta pasif. Guru mengasumsikan dirinya bahwa ia bertanggung jawab penuh terhadap apa yang akan diajarkan dan bagaimana mengajarkannya. Gurulah yang mengevaluasi hasil belajar. Pembelajaran dianggap sebagai proses perolehan suatu pengetahuan (mata ajar) yang telah ditentukan sebelumnya. Materi ajar telah diurutkan secara sistematis dan logis sesuai dengan topik-topik mata ajar.

Dalam pedagogi, umumnya motivasi datang secara eksternal, artinya disuruh atau dipaksa atau diwajibkan atau dituntut untuk mengikuti suatu pendidikan tertentu. 


http://klubhausbuku.wordpress.com/2008/06/07/pengenalan-andragogi-pedagogi/

http://kartika71tik.blogspot.com/2011/03/paedagogi-dan-andragogi.html

http://kartika71tik.blogspot.com/2011/03/paedagogi-dan-andragogi.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Pedagogi

http://imtaq.com/perbedaan-pedagogi-dan-andragogy/

Jumat, 11 Mei 2012

Blended Learning


Blended Learning


Beberapa kemungkinan tentang pengertian blended learning antara lain sebagai berikut :
1. Penggabungan pembelajaran berbasis teknologi internet (laboratorium virtual, modul digital, gambar,audio, dan text) untuk mencapai tujuan pembelajaran.
2. Kombinasi teknologi komputer dan informasi dengan pembelajaran tatap muka.
3. Pengertian blended learning  yang banyak diikuti adalah upaya mengkombinasikan pembelajaran yang mengkombinasi atau mencampur antara pembelajaran tatap muka (face to face = f2f) dan pembelajaran berbasis komputer (online dan offline).


Blended learning dapat melatih kemampuan siswa untuk beradaptasi dengan pembelajaran berbasis internet. Beberapa keuntungan pemanfaatan blended learning dalam pembelajaran diantaranya adalah sebagai berikut :  
1. Siswa leluasa untuk mempelajari materi pelajaran secara mandiri memanfaatkan materi-materi yang tersedia secara on-line.
2. Siswa dapat melakukan diskusi dengan guru atau siswa lain diluar jam tatap muka.
3. Kesempatan belajar menjadi lebih baik secara bersama-sama maupun secara terpisah. Para palajar tidak harus hadir dalam ruang diskusi secara fisik, namun bisa secara virtual saja, sehingga tidak ada yang perlu untuk ketinggalan informasi.
4. Guru dapat menambahkan materi pengayaan melalui fasilitas internet.
5. Meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan daya tarik yang lebih besar dalam berinteraksi antar manusia dalam lingkungan belajar yang beragam.

Disamping keuntungannya, menurut saya blended learning juga memiliki beberapa kekurangan. Contohnya seperti :
1. Tidak tersedianya jaringan internet dimana saja. Apabila jaringan kurang memadai akan menyulitkan peserta dalam mengikuti pembelajaran mandiri via online.
2. Belum tentu semua mahasiswa sekarang telah mempunyai laptop pribadi. Meskipun laptop telah merupakan sesuatu yang umum dimiliki setiap orang pada saat ini, namun kenyataannya ada juga beberapa teman saya yang belum memilikinya. Maka, untuk kondisi seperti ini, blended learning menjadi kurang efektif dan sedikit menyusahkan.
3. Kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan teknologi.


Tujuan utama blended learning adalah memberikan kesempatan bagi berbagai karakteristik pebelajar agar terjadi belajar mandiri, berkelanjutan, dan berkembang sepanjang hayat, sehingga belajar akan menjadi lebih efektif, lebih efisien, dan lebih menarik.

Terdapat beberapa penelitian menunjukkan bahwa blended learning memiliki kelebihan dibandingkandengan dengan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran murni e-learning. Blended learning dapat melakukan diversifikasi pembelajaran dan memenuhi karakteristik belajar siswa yang berbeda-beda. Misalnya, siswa yang enggan berdiskusi di kelas mungkin saja akan lebih aktif berdiskusi secara tertulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa blended learning lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran tatap muka maupun e-learning. Mengenai hal itu, saya cukup setuju. Karena tidak semua orang berani dalam mengajukan pendapatnya apabila di tempat umum langsung seperti kelas. Ada saja mahasiswa yang sebenarnya memiliki banyak ide namun kurang berani menunujukkannya. Dengan blended learning ini mahasiswa yang lebih tertutup akan menjadi lebih aktif.

Saya sendiri merasa blended learning cukup bermanfaat walaupun keefektivitasannya belum terpenuhi semaksimal mungkin. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa tidak semua orang memiliki laptop pribadi dan juga jaringan internet yang tidak begitu lancar. Selain itu, saya termasuk mahasiswa yang cukup gaptek sehingga diperlukan usaha lebih untuk mempelajarinya. Namun, hal inilah yang telah menjadi peluang bagi saya untuk mempelajari sesuatu yang baru dan mengembangkan pengetahuan saya.



Senin, 07 Mei 2012

Tugas Kelompok (Pendidikan Bagi Tunarungu)




 Anggota Kelompok :

1.     Gustrispa N. Sirait ( 11 – 035 )
2.     Fera ( 11 – 037 )
3.     Dina Maharani Trg ( 11 – 055 )
4.     Fania Hutagalung ( 11 – 081 )
5.     Rossie Janette G. G ( 11 – 087 )
6.     Dinarti Utari ( 11 - 093  )
7.     Chindy ( 11 – 097 )
8.     Fonds Novel ( 11 – 105 )
9.     Dhara Puspita Hrp ( 11 – 113 )
10.  Shellani Raudoh ( 11 – 115 )

Anak tunarungu adalah anak yang mengalami gangguan pendengaran atau kehilangan pendengaran yang diakibatkan oleh tidak berfungsinya sebagian atau seluruh indra pendengaran, baik permanen maupun tidak permanen sehingga dibutuhkan suatu layanan pendidikan khusus. Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran adalah:
1.     Gangguan pendengaran sangat ringan ( 27 – 40 dB )
2.     Gangguan pendengaran ringan ( 41 – 55 dB )
3.     Gangguan pendengaran sedang ( 56 – 70 dB )
4.     Gangguan pendengaran berat ( 71 – 90 dB )
5.     Gangguan pendengaran ekstrem/tuli ( di atas 91 dB )

Berhubung karena memiliki hambatan dalam pendengaran, individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. Cara berkomunikasi dengan individu menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda-beda di setiap negara. saat ini dibeberapa sekolah sedang dikembangkan komunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan melibatkan bahasa verbal, bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Individu tunarungu cenderung kesulitan dalam memahami konsep dari sesuatu yang abstrak.


Sebagaimana anak lainnya yang mendengar, anak tunarungu membutuhkan pendidikan untuk mengembangkan potensinya secara optimal. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, diperlukan layanan pendidikan yang disesuaikan dengan karakteristik, kemampuan, dan ketidakmampuannya.


Ditinjau dari tempat sistem pendidikannya, layanan pendidikan bagi anak tunarungu dikelompokkan menjadi sistem segregasi dan integrasi / terpadu.
1.   Sistem segregasi merupakan sistem pendidikan yang terpisah dari penyelenggaraan pendidikan untuk anak mendengar/normal. Tempat pendidikan bagi anak tunarungu melalui sistem ini meliputi: sekolah khusus (SLB-B), SDLB, dan kelas jauh atau kelas kunjung.
2.   Sistem pendidikan integrasi/terpadu, merupakan sistem pendidikan yang memberikan kesempatan kepada anak tunarungu untuk belajar bersama anak mendengar/normal di sekolah umum/biasa. Melalui sistem ini anak tunarungu ditempatkan dalam berbagai bentuk keterpaduan yang sesuai dengan kemampuannya. Depdiknas (1984) mengelompokkan bentuk keterpaduan tersebut menjadi kelas biasa, kelas biasa dengan ruang bimbingan khusus, serta kelas khusus. Strategi pembelajaran bagi anak tunarungu pada dasarnya sama dengan strategi pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran bagi anak mendengar/normal, akan tetapi dalam pelaksanaannya, harus bersifat visual, artinya lebih banyak memanfaatkan indra penglihatan siswa tunarungu.
Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa bagi Anak Tunarungu :
1.     Pendekatan Auditori Verbal
     Mengajarkan seorang anak untuk menggunakan pendengaran disediakan oleh alat bantu dengar atau implan koklea untuk memahami berbicara dan belajar untuk berbicara. Anak diajarkan untuk mengembangkan pendengaran sebagai akal aktif.
2.  Pendekatan Auditori Oral
  Pengajaran dilakukan dalam dua tahapan yang saling melengkapi, yaitu tahapan fonetik (mengembangkan keterampilan menangkap suku-suku kata secara terpisah-pisah) dan tahapan fonologik ( mengembangkan keterampilan memahami kata-kata, frase, dan kalimat).

Yang perlu diperhatikan oleh pendidik dalam memberikan pembelajaran pada anak tunarungu :
a.     Tidak berbicara membelakangi anak
b.     Anak hendaknya duduk atau berada di bagian paling depan kelas
c.     Bila hanya sebagaian telinganya yang tuna rungu, tempatkan anak sehingga telinga yang masih berfungsi dengan baik, dekat dengan guru
d.     Perhatikan postur anak
e.     Dorong anak selalu memperhatikan wajah guru
f.      Berbicara dengan volume biasa, tetapi gerakan bibirnya harus jelas


Sumber :

Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus


            Pada dasarnya setiap anak berpotensi mengalami problema dalam belajar, hanya saja problema tersebut ada yang ringan dan tidak memerlukan perhatian khusus dari orang lain karena dapat diatasi sendiri oleh anak yang bersangkutan dan ada juga yang problem belajarnya cukup berat sehingga perlu mendapatkan perhatian dan bantuan dari orang lain. Anak luar biasa atau disebut sebagai anak berkebutuhan khusus memang tidak selalu mengalami problem dalam belajar. Namun, ketika mereka diinteraksikan bersama-sama dengan anak- anak sebaya lainnya dalam sistem pendidikan regular, ada hal-hal tertentu yang harus mendapatkan perhatian khusus dari guru dan sekolah untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal.
            Anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan mengalami kelainan/ penyimpangan (fisik, mental-intelektual, sosial, dan emosional) dalam proses pertumbuhkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain yang seusia sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

Beberapa jenis dan karakteristik anak berkebutuhan khusus :

Tunagrahita (Mental retardation)
Adapun cara mengidentifikasi seorang anak termasuk tunagrahita yaitu melalui beberapa indikasi sebagai berikut :
  1. Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu kecil/besar.
  2. Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia.
  3. Perkembangan bicara/bahasa terlambat.
  4. Tidak ada/kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan (pandangan kosong).
  5. Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali).
  6. Sering keluar ludah (cairan) dari mulut.

Tunalaras (Emotional or behavioral disorder)
Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. individu tunalaras biasanya menunjukan prilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku disekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar.
Anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku juga bisa diidentifikasi melalui indikasi berikut:
  1. Bersikap membangkang.
  2. Mudah terangsang emosinya.
  3. Sering melakukan tindakan aggresif.
  4. Sering bertindak melanggar norma sosial / norma susila / hukum.

Tunarungu Wicara (Communication disorder and deafness)
Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen. Berikut identifikasi anak yang mengalami gangguan pendengaran :
  1. Tidak mampu mendengar.
  2. Terlambat perkembangan bahasa.
  3. Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi.
  4. Kurang/tidak tanggap bila diajak bicara.
  5. Ucapan kata tidak jelas.
  6. Kualitas suara aneh/monoton.
  7. Sering memiringkan kepala dalam usaha mendengar.
  8. Banyak perhatian terhadap getaran.
  9. Keluar nanah dari kedua telinga.
  10. Terdapat kelainan organis teling.
Karena memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. Cara berkomunikasi dengan individu menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda-beda di setiap negara. saat ini dibeberapa sekolah sedang dikembangkan komunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan melibatkan bahasa verbal, bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Individu tunarungu cenderung kesulitan dalam memahami konsep dari sesuatu yang abstrak.

Tunanetra (Partially seing and legally blind)
Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan. tunanetra dapat diklasifikasikan kedalam dua golongan yaitu: buta total (Blind) dan low vision. Berikut identifikasi anak yang mengalami gangguan penglihatan :
  1. Tidak mampu melihat.
  2. Tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 meter.
  3. Kerusakan nyata pada kedua bola mata.
  4. Sering meraba-raba/tersandung waktu berjalan.
  5. Mengalami kesulitan mengambil benda kecil di dekatnya.
  6. Bagian bola mata yang hitam berwarna keruh/besisik/kering.
  7. Mata bergoyang terus

Tunadaksa (physical disability)
Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk celebral palsy, amputasi, polio, dan lumpuh. Tingkat gangguan pada tunadaksa adalah ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan melalui terapi, sedang yaitu memilki keterbatasan motorik dan mengalami gangguan koordinasi sensorik, berat yaitu memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik dan tidak mampu mengontrol gerakan fisik.
Berikut identifikasi anak yang mengalami kelainan anggota tubuh tubuh/gerak tubuh :
  1. Anggota gerak tubuh kaku/lemah/lumpuh.
  2. Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lentur / tidak terkendali).
  3. Terdapat bagian anggota gerak yang tidak lengkap / tidak sempurna / lebih kecil dari biasa.
  4. Terdapat cacat pada alat gerak.
  5. Jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam.
  6. Kesulitan pada saat berdiri / berjalan / duduk, dan menunjukkan sikap tubuh tidak normal.
  7. Hiperaktif /tidak dapat tenang.

Tunaganda (Multiple handicapped)
Menurut Johnston & Magrab, tunaganda adalah mereka yang mempunyai kelainan perkembangan mencakup kelompok yang mempunyai hambatan-hambatan perkembangan neurologis yang disebabkan oleh satu atau dua kombinasi kelainan dalam kemampuan seperti intelegensi, gerak, bahasa, atau hubungan pribadi di masyarakat.
Walker (1975) berpendapat mengenai tunaganda sebagai berikut:
  1. Seseorang dengan dua hambatan yang masing-masing memerlukan layanan-layanan pendidikan khusus.
  2. Seseorang dengan hambatan-hambatan ganda yang memerlukan layanan teknologi.
  3. Seseorang dengan hambatan-hambatan yang memerlukan modifikasi khusus.

Kesulitan Belajar (Learning disabilities)
Anak dengan kesulitan belajar adalah individu yang memiliki gangguan pada satu atau lebih kemampuan dasar psikologis yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa, berbicara dan menulis yang dapat memengaruhi kemampuan berfikir, membaca, berhitung, berbicara yang disebabkan karena gangguan persepsi, brain injury, disfungsi minimal otak, dislexia, dan afasia perkembangan. individu kesulitan belajar memiliki IQ rata-rata atau diatas rata-rata, mengalami gangguan motorik persepsi-motorik, gangguan koordinasi gerak, gangguan orientasi arah dan ruang dan keterlambatan perkembangan konsep.
Berikut adalah karakteristik anak yang mengalami kesulitan belajar dalam membaca, menulis, dan berhitung :
a. Anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia)
  1. Perkembangan kemampuan membaca terlambat.
  2. Kemampuan memahami isi bacaan rendah.
  3. Kalau membaca sering banyak kesalahan.
b. Anak yang mengalami kesulitan menulis (disgrafia)
  1. Kalau menyalin tulisan sering terlambat selesai.
  2. Sering salah menulis huruf b dengan p, p dengan q, v dengan u, 2 dengan 5, 6 dengan 9, dan sebagainya.
  3. Hasil tulisannya jelek dan tidak terbaca.
  4. Tulisannya banyak salah/terbalik/huruf hilang.
  5. Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris.
c. Anak yang mengalami kesulitan berhitung (diskalkula)
  1. Sulit membedakan tanda-tanda: +, -, x, :, >, <, =
  2. Sulit mengoperasikan hitungan/bilangan.
  3. Sering salah membilang dengan urut.
  4. Sering salah membedakan angka 9 dengan 6; 17 dengan 71, 2 dengan 5, 3 dengan 8, dan sebagainya.
  5. Sulit membedakan bangun-bangun geometri.

Anak Berbakat (Giftedness and special talents)
Menurut Milgram, R.M (1991:10), anak berbakat adalah mereka yang mempunyai skor IQ 140 atau lebih diukur dengan instrument Stanford Binet (Terman, 1925), mempunyai kreativitas tinggi (Guilford, 1956), kemampuan memimpin dan kemampuan dalam seni drama, seni tari dan seni rupa (Marlan, 1972).
Anak berbakat mempunyai empat kategori sebagai berikut :
  1. Mempunyai kemampuan intelektual atau intelegensi yang menyeluruh, mengacu pada kemampuan berpikir secara abstrak dan mampu memecahkan masalah secara sistematis dan masuk akal.
  2. Kemampuan intelektual khusus, mengacu pada kemampuan yang berbeda dalam matematika, bahasa asing, music, atau ilmu pengetahuan alam.
  3. Berpikir kreatif atau berpikir murni menyeluruh. Pada umumnya mampu berpikir untuk menyelesaikan masalah yang tidak umum dan memerlukan pemikiran tinggi.
  4. Mempunyai bakat kreatif khusus, bersifat orisinil dan berbeda dengan yang lain.



Rabu, 25 April 2012

Tugas Kelompok



1. Persinggungan antara teknologi dan pendidikan

Perkembangan pendidikan berkembang seiring dengan perkembangan teknologi. Komputer, yang merupakan salah satu dari berbagai teknologi yang telah berkembang saat ini, telah memiliki peran yang cukup penting dalam dunia pendidikan. Ditambah dengan adanya sistem internet yang merupakan inti dari komunikasi melalui komputer, siswa-siswa dapat mengakses beribu informasi yang dapat mendukung prises belajarnya.
Contohnya ketika kita melaksanakan pembelajaran dengan metode persentasi, kita sudah menggunakan teknologi yaitu salah satu program yang ada di Personal Computer (PC). Dan juga pada mata kuliah Psikologi Pendidikan, kita sudah mengaitkan antara teknologi dan pembelajaran seperti ketika diberi tugas, kita mengumpulkannya dengan cara memposting hasil tugas tersebut ke blog.
Jadi, teknologi sekarang ini dapat menjadi alat yang baik untuk memotivasi murid dan membimbing pembelajaran mereka. Misalnya internet yang dapat membantu mereka mengakses informasi yang mereka butuhkan untuk menjadi bahan pembelajaran mereka.

2. Perbandingan kondisi pendidikan di Medan dengan kondisi yang dibaca di buku.

Menurut kelompok kami, kondisi pendidikan di Medan belum sepenuhnya maksimal bila dibanding dengan kondisi luar. Meskipun telah adanya atau telah mulai berkembangnya teknologi di masa sekolah, namun pemanfaatan teknologi tersebut tidak maksimal disebabkan sumber daya manusia yang kurang berpotensi dalam bidang tersebut dan juga masih ada beberapa sekolah yang kekurangan finansial untuk menyediakan sistem teknologi tersebut.

3. Pandangan mengenai kaitan Psikologi Pendidikan dengan Ubiquitous Computing

Pandangan kami mengenai Ubiquitous Computing memiliki pengaruh positif dan pengaruh negatifnya.
Pengrauh positif tersebut yaitu segala sesuatu akan menjadi lebih praktis, mudah, dan serba canggih. Informasi yang akan didapatkan juga lebih luas, dan dapat mengurangi penggunaan kertas sehingga mengurangi resiko terjadinya global warming.
Pengaruh negatif yaitu manusia menjadi lebih jarang berinteraksi secara langsung dengan sesamamanusia dan akan cenderung untuk berinteraksi secara tidak langsung.

Tanggapan-tanggapan :
Khalid :
Apakah Ubiquitous Computing perlu berkembang atau tidak?
- Ubiquitous Computing perlu berkembang karena seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa perkembangan pendidikan berkembang seiring dengan berkembangnya teknologi. Maka dari itu, Ubiquitous Computing dapat membantu berkembangnya pendidikan.

Safrida Liasna :
Bagaimana dampak interaksi seperti melalui facebook, twitter, dll?
- Interaksi melalui jejaring sosial tentu tidak sebaik dibandingkan interaksi secara langsung.  Karena kita tidak dapat melihat ekspresi orang tersebut secara langsung.

Minggu, 08 April 2012

Psikologi Sekolah

Anggota Kelompok : 

Kedudukan Psikologi Sekolah dalam Ilmu Psikologi
Psikologi Sekolah adalah salah satu dari beberapa bidang psikologi pendidikan sehingga kedudukannya sangatlah penting. Psikologi sekolah berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi yang bertujuan untuk membentuk mind set anak.

Perbedaan Psikologi Sekolah dan Psikologi Pendidikan
Psikologi Pendidikan adalah salah satu cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan pada sistem atau metode pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. Tujuan psikologi pendidikan adalah memberikan pengetahuan riset yang dapat secara efektif diaplikasikan untuk situasi mengajar, mempelajari bagaimana manusia belajar dalam setting pendidikan, dan pengelolaan organisasi sekolah.
Psikologi sekolah berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik , sosialisasi, dan emosi. Psikologi sekolah juga  bertujuan untuk membentuk mind set anak.
Maka perbedaan psikologi pendidikan dan psikologi sekolah dapat dilihat dari ruang lingkupnya. Psikologi pendidikan bergerak dalam bidang yang luas, sedangkan psikologi sekolah hanya bergeak dalam ruang lingkup sekolah.
Psikologi pendidikan berhubungan dengan cara pengajaran, sedangkan psikologi pendidikan berhubungan dengan anak didik di sebuah sekolah, contohnya seperti memberikan nasehat mengenai masalah yang ada di dalam sekolah,  pembinaan murid dan guru, pengembangan kognitif, kreatif, etik, dan juga pengembangan kemampuan siswa dalam ruang lingkup sekolah.

Fungsi Sekolah sebagai Agen Perubahan
Sebagai lembaga pendidikan, sekolah diharapkan mnejadi sarana dimana terjadi perubahan dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang berperilaku buruk menjadi lebih baik. Tentu saja hal ini hanya dapat terjadi apabila semua bagian-bagian dari perubahan tersebut saling mendukung prosesnya. Maksudnya adalah jika di sekolah dasar, anak – anak telah diajarkan untuk membuang sampah pada tempatnya, namun di rumah seorang murid tempat sampah hanya tersedia di tempat yang sulit dijangkau oleh seorang anak berumur tujuh tahun, sehingga anak tersebut malas untuk melaksanakan perbuatan yang baik tersebut. Begitu juga sebaliknya, jika dirumah seorang anak diajarkan untuk selalu menyapa guru – guru disekolah, namun para guru disekolah cenderung mengacuhkan anak murid tersebut, maka usaha orangtua untuk memperbaiki sikap anaknya tersebut akan sia – sia. Jika seluruh komponen dalam dinamika tersebut telah bekerjasama untuk mendukung proses tersebut, maka sangat besar kemungkinan perubahan menuju arah yang lebih baik akan terjadi.

Metode yang Dapat Digunakan dalam Sistem Pengajaran di Sekolah
Metode belajar – mengajar dapat diartikan sebagai cara-cara yang dilakukan untuk menyampaikan atau menanamkan pengetahuan kepada subjek didik, murid, atau anak melalui sebuah kegiatan belajar mengajar, baik di sekolah, rumah, kampus, pondok, dll.
Metode yang umum digunakan dalam proses belajar mengajar antara lain berbentuk ceramah, tanya jawab, pemberian tugas dan metode demonstrasi (praktek).
·      Metode ceramah adalah sebuah bentuk interaksi melalui penerangan dan penuturan secara lisan oleh seseorang guru terhadap kelasnya. Guru dapat menggunakan alat-alat bantu, seperti gambar- gambar dan yang paling utama adalah bahasa lisan. Metode ceramah adalah metode mengajar yang sampai saat ini masih mendominasi atau paling banyak digunakan guru dalam dunia pendidikan
·      Metode tanya jawab ialah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru ke siswa dan begitu juga sebaliknya.
Metode  ini merupakan salah satu teknik mengajar yang dapat membantu kekurangan- kekurangan pada metode ceramah, apabila suatu penjelasan guru yang belum dimengerti, maka siswa / anak didik dapat langsung menanyakan pada guru.
·      Metode pemberian tugas adalah suatu cara dalam proses belajar mengajar di mana guru memberi tugas tertentu dan murid mengerjakannya, kemudian tugas tersebut dipertanggung jawabkan kepada guru. Dalam hal ini guru memberikan tugas pada murid untuk maju ke depan kelas untuk medemonstrasikan apa yang diajarkan guru.
Dalam pendidikan agama sering digunakan metode ini terutama dalam hal yang bersifat praktis, sehingga siswa mempunyai gambaran yang jelas tentang materi pelajaran yang telah diterimanya.
·      Metode pemberian tugas adalah suatu cara dalam proses belajar mengajar di mana guru memberi tugas tertentu dan murid mengerjakannya, kemudian tugas tersebut dipertanggung jawabkan kepada guru. Dalam hal ini guru memberikan tugas pada murid untuk maju ke depan kelas untuk medemonstrasikan apa yang diajarkan guru.
Dalam pendidikan agama sering digunakan metode ini terutama dalam hal yang bersifat praktis, sehingga siswa mempunyai gambaran yang jelas tentang materi pelajaran yang telah diterimanya.

Permasalahan – permasalahan yang Terjadi di Sekolah dan Solusi Pemecahan Masalah
Sekolah adalah lingkungan yang sangat kompleks, tempat yang memungkinkan bertemunya berbagai macam orang berbeda. Segala perbedaan tersebut memberi peluang untuk terjadinya permasalahan dan konflik jika tidak disikapi dengan benar. Berikut ini akan dipaparkan beberapa permasalahan dan cara yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.
1.      Perilaku Menyimpang
Contoh kasus: seorang murid yang tidak bisa duduk tenang di bangku atau bergoyang-goyang saat presentasi di depan kelas
Hal ini disebabkan oleh rasa nervous yang berlebihan dan dapat diatasi dengan bantuan pengajar yang menenangkan murid tersebut dengan mengalihkan perhatian murid bermasalah tersebut dari kegugupannya dengan melontarkan lelucon ataupun menyemangatinya.
2.      Perilaku Bermasalah
Contoh kasus: murid yang malu bertanya
Hal ini biasanya terjadi karena beberapa hal seperti: tidak biasa untuk bertanya, takut pertanyaaannya terdengar konyol, tidak suka menjadi pusat perhatian. Solusi untuk hal ini mungkin adalah dengan menunjuk pasti anak tersebut dan memintanya untuk bertanya tentang hal yang ia ingin ketahui.
3.      Penyesuaian Diri yang Salah
Contoh kasus: murid yang menyontek pekerjaan temannya
Hal ini seharusnya dapat diselesaikan dengan memberikan peringatan maupun hukuman yang membuat dia mengerti bahwa tindakan yang dia lakukan tersebut salah dan tidak hanya merugikan teman yang dia contek tetapi juga merugikan dirinya sendiri.
Terdapat beberapa kasus lainnya seperti bullying/penindasan yang sering dilakukan oleh senior terhadap junior. Kasus inilah yang paling sering terjadi sekarang dan harus ditindak dengan benar. Salah satu cara untuk menghentikan penindasan ini adalah memperketat peraturan sekolah tentang isu tersebut, contoh: memberikan sangsi untuk anak yang terlibat penindasan. Beberapa cara lain juga dapat dilakukan seperti melakukan sosialisasi bagi tiap murid untuk menyadari diri mereka sendiri, memperkuat pelajaran agama, karena agama adalah cara yang paling efektif untuk menahan diri seseorang dari perbuatan yang salah. Cara lain tersebut juga dapat dilakukan untuk masalah-masalah lainnya. Namun, komunikasi efektif antara orangtua dan para pendidik di sekolah akan sangat membantu untuk mencegah berbagai permasalahan yang mungkin terjadi.

Fungsi dan Peran Psikolog Sekolah dan Perlunya Psikolog Sekolah
Dalam pelaksanannya, psikolog sekolah berhadapan langsung dengan murid secara perorangan, kelompok murid, murid per kelas, guru secara perorangan, kelompok guru , tenaga administrasi. Psikolog sekolah sangat berperan penting dalam pelaksanaan psikologi dalam hal diagnostik di sekolah:
  • Pelaksanaan tes 
  • Melakukan wawancara dengan siswa, guru, orangtua, serta orang-orang yang terlibat dalam pendidikan siswa 
  • Observasi siswa di kelas, tempat bermain, serta dalam kegiatan sekolah lainnya 
  • Mempelajari data kumulatif prestasi belajar siswa
Psikolog sekolah bekerja dengan masing-masing siswa dan kelompok siswa untuk mengatasi masalah perilaku, kesulitan akademis, cacat dan isu-isu lainnya. Mereka juga bekerja dengan guru dan orang tua untuk mengembangkan teknik untuk menangani dengan rumah dan perilaku kelas. Tugas lainnya termasuk siswa pelatihan, orangtua dan guru tentang bagaimana mengelola situasi krisis dan masalah penyimpangan.
Psikolog Sekolah juga bertindak sebagai pendidik oleh orang lain dalam membantu memahami lebih lanjut tentang perkembangan anak, masalah perilaku dan teknik perilaku manajemen.

Hal – Hal yang Diberikan dalam Kaitanya dalam Layanan Psikolog Sekolah
Berikut layanan yang diberikan oleh seoran psikolog sekolah :
  1. Membantu pihak sekolah, khususnya guru, dalam menangani siswa sekolah yang mengalami masalah psikologis.
  2. Membantu orangtua menangani masalah yang ada pada anak mereka yang bersekolah di sekolah.
  3. Membantu siswa baik secara individual maupun kelompok untuk menangani masalah yang mereka hadapi di sekolah dan rumah.
  4. Memberikan pengarahan dan pelatihan secara berkala untuk para guru berkaitan dengan perkembangan anak dan permasalahan psikologis lainnya.
  5. Memberikan seminar / workshop / sharing session pada orangtua secara berkala.
  6. Membantu pihak sekolah dalam proses seleksi siswa baru.
  7. Membantu pihak sekolah dalam proses rekrutmen dan seleksi guru.
Penanganan masalah pada siswa yang dilakukan di sekolah meliputi: observasi ; evaluasi / tes psikologis; wawancara dengan siswa & orangtua ; memberikan konseling baik bagi siswa maupun orangtua ; bekerja sama dengan guru dalam menangani siswa ; dan memberi rujukan.

Perbedaan antara Psikolog Sekolah, Psikolog Pendidikan, dan Guru BK
Seorang psikolog pendidikan berkaitan dengan membantu anak – anak atau remaja yang mengalami masalah dalam pengaturan pendidikan dengan tujuan meningkatkan proses belajar mereka. Tantangan dapatmencakup masalah – masalah sosial ,emosional, atau kesulitan belajar. Pekerjaan dalam lingkup individual atau kelompok, menasehati guru, orangtua, pekerjasosial, dan profesional lainnya.
Kinerja melibatkan penilaian dari pengamatan anak menggunakan wawancara dan bahan uji. Mereka menawarkan berbagai intervensi yang tepat seperti belajar program dan kerja kolaboratif dengan guru atau orangtua. Psikolog pendidikan juga memberikan pelatihan in-service untuk guru dan profesional lain pada isu isu seperti perilaku dan manajemen stres. Pekerjaan juga melibatkan penelitian dan memberikan nasehat mengenai ketentuan dan kebijakan pendidikan.
Seorang psikolog sekolah adalah jenis psikolog yang bekerja dalam sistem pendidikan untuk membantu anak – anak dengan masalah emosional, sosial, dan akademik. Tujuan dari psikolog sekolah adalah untuk berkolaborasi dengan orangtua , guru, dan siswa untuk mempromosikan lingkungan belajar yang sehat yang berfokus pada kebutuhan anak-anak.
Menurut National Association of Sekolah Psikologi (NASP), terdapat 5 ( lima ) wilayah utama dimana psikolog sekolah menyediakan jasa:
1. Konsultasi
2. Evaluasi
3. Intervensi
4. Pencegahan
5. Penelitian dan Perencanaan
Bimbingan konseling menempati bidang pembimbingan siswa dalam keseluruhan, proses dan kegiatan pendidikan. Pemberian bimbingan konseling kepada siswa agar masing-masing siswa dapat berkembang menjadi pribadi yang mandiri secara optimal. Bimbingan konseling dapat berfungsi pengembangan artinya, bimbingan yang diberikan dapat membantu para siswa dalam mengembangkan keseluruhan pribadinya secara lebih terarah dan mantap.
Tugas Guru BK/Konselor Menurut PP No. 74 Tahun 2008 :
Guru bimbingan konseling  / konselor memiliki tugas, tanggung jawab, wewenang dalam pelaksanaan pembimbingan konseling terhadap peserta didik. Tugas guru bimbingan konseling / konselor terkait dengan pengembangan diri peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, dan kepribadian peserta didik di sekolah/madrasah.
Tugas guru bimbingan konseling/konselor yaitu membantu peserta didik dalam:
  1. Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pembimbingan yang membantu peserta didik dalam memahami serta menilai bakat dan minat.
  2. Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pembimbingan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial dan industrial yang harmonis, dinamis, berkeadilan, dan bermartabat.
  3. Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pembimbingan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar untuk mengikuti pendidikan sekolah / madrasah secara mandiri.
  4. Pengembangan karir, yaitu bidang pembimbingan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.

Sumber :